Fantasista Abdurrahman Wahid
Dalam sepakbola, fantasista seringkali ditafsirkan sebagai orang yang mampu menciptakan hal-hal ajaib dalam sepakbola. Hal-hal ajaib yang diciptakan oleh fantasista tidak melulu gerakan mewah. Malah, seringkali merupakan perpaduan gerakan sederhana di luar imajinasi banyak orang. Karena berada di luar imajinasi banyak orang itulah hasilnya disebut sebagai fantastis.
Moment fantastis dalam sepakbola tidak asal terjadi. Ia lahir dari perkawinan imajinasi liar, ketenangan, skill, serta ketepatan pemain. Tidak banyak pemain sepakbola punya jiwa fantasista. Tidak banyak pemain bola punya imajinasi liar serta ketenangan yang cukup di dalam besarnya tekanan penonton seisi stadion. Karenanya, fantasista seringkali merupakan keajaiban. Mereka mampu mengubah pertandingan sepakbola lebih dari sekadar upaya untuk menang, tetapi juga sebagai teater pertunjukan.
Diego Maradona, Roberto Baggio, serta Pele adalah sedikit dari pemain sepakbola yang berlabel fantasista. Sepakbola mereka melampaui pertandingan. Gocekan, operan, serta gerakan mereka dalam bermain sepakbola seringkali merupakan keajaiban. Magis.
Dalam pertandingan Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986 misalnya, Maradona mampu menghadirkan penampilan fantastis yang disaksikan secara langsung oleh seratus empat belas ribu penonton di Estadio Azteca di Meksiko. Hanya dalam empat menit, Maradona menyihir dunia lewat gol tangan tuhan dan solo run dari tengah lapangan.
Itu Maradona, bukan Gus Dur. Jika Maradona, Pele dan Baggio menunjukkan tarian magisnya dalam lapangan sepakbola, Gus Dur menunjukkan ide magisnya melalui bahasa sepakbola. Gus Dur menjadi guru bangsa-kyai yang bermesraan dengan sepakbola sama intensnya dengan kemesraannya pada buku dan ide-ide besar kebangsaan.
Sepakbola dalam giringan Gus Dur bukan sekadar olahraga dan hiburan. Sepakbola bagi Gus Dur adalah tempat berpikir, menyampaikan ide besar dan gagasan sekaligus alat analisis isu sosial-politik. Tarian jari jemari Gus Dur dalam sepakbola dapat dilihat misalnya dalam berbagai tulisannya yang tersebar luas di berbagai surat kabar nasional.
Dalam mengulas pertandingan sepakbola, Gus Dur bukan hanya menyebutkan hasil pertandingan, kumpulan peluang-peluang kedua tim dan juga statistik belaka, tetapi menyajikan analisis taktik, khas pundit bola kelas wahid. “Arrigo Sacchi dan Ketegaran Strateginya”, “Belanda dan Eksperimen Dick Advocaat”, “Final yang Antiklimaks”, adalah sebagian dari judul tulisan-tulisan Gus Dur yang mengulas secara tajam pertandingan sepakbola.
Salah satu contoh betapa seriusnya Gus Dur dalam mengulas taktik sebuah pertandingan sepakbola adalah tulisan Gus Dur di majalah Tempo yang berjudul “Piala Eropa: Adu Pola”, Gus Dur menyebut Piala Eropa 1992 sebagai tempat beradu pola permainan. Pertahanan negara-negara Eropa disebut sudah semakin berkembang. Ini yang membuat Piala Eropa miskin gol, dan sulitnya lini depan kesebelasan menyusun serangan. Gus Dur menyebutkan bahwa dibutuhkan keterpaduan serangan yang tidak terputus dari belakang. Ketika ditanya lebih jauh faktor apa yang menjadi alasan keberhasilan tim-tim di Piala Eropa, dengan nada penuh keyakinan Gus Dur menyebut, kemampuan mengembangkan pola permainan yang efektif.
Sepakbola juga pernah dijadikan pisau analisis oleh Gus Dur ketika awal menjabat sebagai presiden. Kawan debat Gus Dur, Sindhunata menulis di harian Kompas tentang pemerintahan yang dipimpinnya. Sindhunata menyoroti gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh Gus Dur untuk Indonesia. Menurut Sindhunata, cara Gus Dur memimpin Indonesia terlalu fokus pada pertahanan seperti pertahanan Italia dalam pertandingan sepakbola. Tampaknya, kritikan Sindhunata ini merujuk pada cara Gus Dur dalam memilih Pansus DPR. Karena itulah kemudian Sindhunata menjulukinya dengan sebutan “Catenaccio”. Lebih jauh, Sindhunata menyebut sistem bertahan ini sebagai sistem yang sulit dikembangkan di Indonesia. Pemerintah seharusnya lebih aktif, lebih menyerang. Dengan begitu demokrasi bisa ditegakkan lebih menyeluruh.
Gus Dur tidak kehabisan akal. Dua hari selepas tulisan Sindhunata, Gus Dur membalas. “Catenaccio hanya alat belaka”, begitu tulis Gus Dur. Kemudian Gus Dur menjelaskan bahwa pemilihannya atas Pansus DPR yang membantu pemerintahannya sudah didasarkan atas berbagai pertimbangan. “Sangatlah keliru jika masalah demokrasi diukur hanya dengan ukuran Pansus DPR saja. Juga sangatlah keliru untuk menganggap strategi Catenaccio dipakai untuk semua hal.” Gus Dur menyebut bahwa reformasi bukan sebagai pekerjaan yang bisa selesai dalam satu-dua tahun saja. Karenanya, menurut Gus Dur, meski menggunakan strategi “catenaccio” bukan berarti tidak menuju ke arah sana.
Terbaca saat ketika Gus Dur menulis analisis taktikal bola atau saat sedang menggunakan sepakbola sebagai kacamata sosial-politik, caranya selalu melampaui batas-batas imajiner kita akan seorang kyai-guru bangsa. Magis, Fantastis. Itulah Gus Dur.
Dalam catatan sejarah, tidak banyak guru bangsa yang memiliki ketertarikan serta kedalaman pemahaman akan sepakbola. Maklum, dua hal ini seringkali diletakkan di sudut yang saling berjauhan. Sepakbola dianggap sebagai olahraga dan hiburan, bahkan pada awal kemunculannya dianggap hanya sebatas identitasnya kelas pekerja. Sementara guru bangsa identik dengan pemikiran berat, yang disibukkan oleh ide-ide kemaslahatan umat. Gus Dur melampaui itu. Idenya besar, pemikirannya berat, tetapi tetap mampu menyampaikannya dengan fasih menggunakan bahasa sepakbola. Bahasa khas orang awam.
Hari ini kita merindukan guru bangsa yang seperti Gus Dur. Guru bangsa yang tidak hanya duduk manis di menara gading tanpa mengerti persoalan yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Guru bangsa yang mampu menyampaikan pembelaan serta ide-ide besar dengan bahasa sederhana khas masyarakat awam. Kita sulit menemukan (untuk tidak menyebutnya sama sekali tidak ada) guru bangsa yang selengkap Gus Dur. Fasih bukan hanya dalam bahasa akademik, tetapi juga dalam bahasa keseharian masyarakat awam.
Gus Dur mampu menampilkan diri bukan hanya sebagai figur kharismatik dengan jutaan pengikut fanatik, tetapi juga sebagai manusia biasa yang menikmati moment dan hiburan-hiburan sederhana khas masyarakat pada umumnya: film, sepakbola, ludruk, dan lain sebagainya. Gus Dur menikmatinya lebih dari lazimnya manusia yang dianggap sebagai kyai serta guru bangsa.
Apa yang dilakukan Gus Dur persis seperti yang dilakukan Maradona, Pele, atau Baggio: mampu mengubah umpan dan gerakan-gerakan kecil menjadi pertunjukkan magis yang menyihir seisi stadion. Gus Dur juga mampu memoles sepakbola bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai alat yang canggih dan tetap merakyat untuk menyampaikan ide-ide besarnya. Gus Dur mampu dengan indah mengawinkan analisis taktik dan permainan sepakbola dengan pesan moral yang dibutuhkan banyak orang. Lebih dari sekadar pesan moral, sepakbola bagi Gus Dur terkadang juga diperlakukan sebagai pisau perdebatan. Menciptakan sebuah sihir yang memukau banyak orang.
Pola dan gaya seperti Gus Dur ini yang sekarang jarang sekali kita jumpai. Entah mereka yang terlalu serius dan tidak mampu berbicara dengan bahasa rakyat awam atau justru Gus Dur yang memang terlalu sakti atas kemampuannya dalam mengawinkan keduanya. Gus Dur dengan fashohah mengamalkan kaidah “Kallimu an Naas biqodri uqulihim”. Masyarakat Indonesia yang gila bola, ya, diajak ngomongin ide besar lewat sepakbola.
Al-Fatihah.
Category : kebudayaan
SHARE THIS POST
Lapak MJS
- Alam Pikiran Jawa-Islam: Filologi, Simbol, dan Struktur Babad Kraton
- Sekar Macapat dalam Wacana dan Praktik
- Nisan Hamengkubuwanan: Artefak Makam Islam Abad XVIII-XIX di Yogyakarta dan Sekitarnya
- Lima Puluh Tahun: Meniti Jalan Kembali
- Buletin Bulanan MJS Edisi ke-9 Maret 2025 M
- Buku Terjemah Rasa II: Tentang Hidup, Kebersamaan, dan Kerinduan