Haji Agus Salim: Iman, Akal, dan Martabat Kebangsaan

slider
11 Desember 2025
|
624

Haji Agus Salim (1884–1954), yang dijuluki The Grand Old Man, merupakan salah satu arsitek utama kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya menawarkan sintesis progresif antara ajaran Islam yang dinamis (dinamisasi) dengan tuntutan modernitas dan perjuangan nasional.

Tulisan ini bertujuan menganalisis tiga pilar utama pemikiran Agus Salim: iman sebagai fondasi etika, akal sebagai instrumen kemajuan, dan martabat kebangsaan sebagai manifestasi dari integritas moral dan filosofi pengorbanan. Tulisan ini akan menguraikan bagaimana sintesis iman-akal-martabat kebangsaan termanifestasi dalam tiga aspek utama: konsep nasionalisme, integritas sosial-ekonomi, dan etika kepemimpinan.

Selain itu, tulisan ini akan menyoroti konsep nasionalisme religius yang Haji Agus Salim tawarkan, kritiknya terhadap sekularisme politik, serta filosofi kepemimpinannya, leiden is lijden (memimpin adalah menderita), sebagai cetak biru etika publik yang relevan bagi Indonesia kontemporer.

Sejarah pergerakan nasional Indonesia ditandai oleh dialektika sengit antara kelompok nasionalis sekuler dan kelompok nasionalis religius. Di tengah pusaran ideologis ini, sosok Haji Agus Salim menempati posisi unik sebagai seorang diplomat ulung, intelektual Islam modernis, dan figur yang menjunjung tinggi integritas personal. Pemikirannya merupakan representasi dari upaya serius untuk menempatkan etika keislaman sebagai jantung dari politik dan kebangsaan (Wendry, 2015).

Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, Haji Agus Salim bukan sekadar politisi, ia adalah seorang filsuf yang berpegangan teguh pada prinsip bahwa kebangsaan sejati harus didasarkan pada iman (keyakinan tauhid) dan didukung oleh akal (rasionalitas dan ijtihad), yang pada akhirnya akan menghasilkan martabat kebangsaan (kemuliaan bangsa). Ia meyakini bahwa Islam adalah agama yang dinamis, tidak beku, dan dapat mengikuti zaman, asalkan prinsip dasarnya tidak berubah (Qoyyim, 2013).

Nasionalisme Religius: Mendefinisikan Martabat Kebangsaan

Haji Agus Salim memformulasikan konsep nasionalisme religius yang berbeda secara fundamental dari nasionalisme yang berorientasi sekuler. Baginya, cinta Tanah Air (hubb al-watan) harus diletakkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah (iman) sebagai sebuah amanah. Nasionalisme sejati, menurut Haji Agus Salim, bukanlah chauvinisme atau pemujaan terhadap negara (deifikasi), melainkan upaya sungguh-sungguh untuk memakmurkan dan memartabatkan rakyat di bumi pertiwi.

Perbedaan tajam ini terlihat dalam polemiknya dengan Soekarno. Haji Agus Salim mengkritik kecenderungan untuk ‘mengagungkan’ negara, mengingatkan bahwa pengagungan (mempertuhankan) bangsa adalah bentuk penyimpangan tauhid. Martabat kebangsaan tidak dicapai melalui retorika hampa, melainkan melalui ikhtiar (usaha) dan jihad dalam arti yang luas yang mencakup perjuangan diplomasi, pendidikan, dan pembangunan etika publik (Bustomi, 2011).

Haji Agus Salim memandang bahwa akal (rasionalitas) harus digunakan, namun ia mengingatkan bahwa tanpa dibimbing oleh dalil wahyu, akal semata-mata akan mengalami kebangkrutan moral. Integrasi iman dan akal inilah yang memastikan nasionalisme religius berfungsi sebagai pagar etis, mencegah pemimpin dan bangsa jatuh pada praktik absolutisme, penindasan, atau eksploitasi. Dengan demikian, martabat kebangsaan adalah cerminan dari etika keagamaan yang dipraktikkan secara kolektif.

Integritas Personal dan Sosialisme Islam

Integritas Haji Agus Salim tercermin dalam gaya hidupnya yang sangat sederhana, kontras dengan statusnya sebagai menteri luar negeri dan diplomat ulung. Kesederhanaan ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi perwujudan filosofis dari penolakan terhadap kapitalisme eksploitatif dan materialisme berlebihan.

Dalam konteks ekonomi-sosial, Haji Agus Salim menawarkan pemikiran yang condong pada sosialisme Islam. Ia memahami bahwa ajaran Islam menekankan prinsip ta’awun (tolong-menolong) sebagai dasar pembangunan masyarakat yang adil (Qoyyim, 2013). Prinsip ini digunakan Haji Agus Salim untuk melawan dua ekstrem ideologi pada masanya.

Pertama, komunisme (SI Merah): Ia menolak ideologi yang ateistik dan memandang persatuan umat berdasarkan kelas (borjuis vs proletar), yang dianggapnya memecah belah bangsa (dikutip dalam Tanzil dkk., 1984). Kedua, kapitalisme: Ia menolak sistem yang menimbulkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, serta mendorong penindasan buruh.

Sosialisme Islam ala Haji Agus Salim berupaya mewujudkan keadilan sosial melalui etika keislaman, memastikan bahwa urusan material bangsa (kesejahteraan) dituntun oleh tujuan rohaniah (iman), sehingga kesejahteraan publik menjadi bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Hal ini akan semakin menguatkan martabat kebangsaan karena kebangsaan yang bermartabat adalah kebangsaan yang adil dan merata.

Filosofi Kepemimpinan: “Leiden is Lijden

Puncak dari sintesis iman, akal, dan martabat kebangsaan dalam diri Haji Agus Salim terangkum dalam filosofi kepemimpinannya: “Leiden is lijden” (Memimpin adalah menderita). Ungkapan bahasa Belanda ini, yang populer ia gunakan, bukanlah tentang kesengsaraan fisik semata, melainkan penderitaan etis dan moral yang wajib ditanggung seorang pemimpin (Roem, 1977).

Lijden (menderita) yang dimaksudkan oleh Haji Agus Salim mencakup, pertama, penderitaan empati: seorang pemimpin harus merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Ia menderita karena tidak tahan melihat kesulitan warganya (Bustomi, 2011). Kedua, penderitaan pengorbanan: kesiapan mengesampingkan kepentingan pribadi, pangkat, dan kenyamanan material demi amanah. Ini diwujudkan dalam kesederhanaan hidupnya yang radikal. Ketiga, penderitaan integritas: kesiapan menanggung kritik dan tekanan (fisik maupun batin) demi mempertahankan prinsip kebenaran dan keadilan yang bersumber dari iman.

Filosofi ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah pengorbanan (sacrificing), bukan penuntutan (demanding). Hal ini menjadi instrumen akal untuk mengukur apakah martabat kebangsaan benar-benar ditegakkan, di mana pemimpin tidak menikmati fasilitas, melainkan siap mendahulukan kepentingan umum. Konsep dari Haji Agus Salim ini adalah antitesis terhadap praktik oligarki dan hedonisme kekuasaan yang mengancam martabat sebuah bangsa.

Penutup

Pemikiran Haji Agus Salim menawarkan model integral bagi pembangunan bangsa, yang meletakkan iman (tauhid dan etika Islam) menjadi fondasi, akal (rasionalitas dan ijtihad) menjadi metodologi, dan martabat kebangsaan (keadilan sosial, integritas, dan pengorbanan) menjadi hasil akhirnya. Nasionalisme religius yang ia usung sukses menjembatani ketegangan antara Islam dan negara dengan menempatkan Islam sebagai sumber etika bagi politik, bukan sebagai identitas politik yang eksklusif.

Filosofi “Leiden is Lijden” bukan hanya warisan sejarah, melainkan sebuah tuntutan etis yang esensial. Hal ini mengajarkan bahwa kemuliaan dan martabat sebuah bangsa sangat bergantung pada kesediaan para pemimpinnya untuk berkorban dan menderita demi kepentingan rakyat.

Relevansi pemikiran Haji Agus Salim terletak pada ketegasannya bahwa tanpa integritas moral dan pengorbanan yang berakar pada iman dan akal, maka cita-cita ideal sebuah bangsa hanya akan menjadi retorika tanpa substansi.

Referensi:

Bustomi. 2011. “Relevansi Pemikiran Haji Agus Salim”, Skripsi. UNAIR: Surabaya.

Qoyyim, M. 2013. “Pemikiran Haji Agus Salim tentang Aqidah, Shariah, dan Ideologi”. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol. 3, No. 2, 503–525.

Roem, M. 1977. “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita”. Prisma, No. 8, Agustus.

Tanzil, H., dkk. eds. 1984. Seratus Tahun Haji Agus Salim. Jakarta: Sinar Harapan.

Wendry, N. 2015. “Nasionalisme Islam: Telaah Pemikiran dan Kiprah Haji Agus Salim”. Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman, Vol. 2, No. 1, 65–86.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Alfi Sahrin Al Gulam Lubis

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini sedang magang di Lini Media Masjid Jendral Sudirman