Realisme Objektivis Alan Chalmers dalam Filsafat Ilmu

slider
09 Februari 2026
|
155

Alan F. Chalmers, seorang filsuf sains Inggris-Australia dan profesor di Universitas Sydney, menempati posisi unik dalam lanskap filsafat ilmu pengetahuan kontemporer. Melalui karya monumentalnya, What is This Thing Called Science? (1976), ia dikenal bukan hanya sebagai pengkritik terhadap pandangan tradisional (seperti positivisme), tetapi juga sebagai pembela rasionabilitas sains dari serangan relativisme sosiologis yang ekstrem. Pandangan Chalmers dapat dinarasikan sebagai upaya berkelanjutan untuk mendefinisikan objektivitas tanpa terjebak pada dogma metode yang kaku.

Hakikat Ilmu

Titik berangkat pemikiran Chalmers adalah dekonstruksi terhadap apa yang ia sebut sebagai pandangan akal sehat (commonsense view) mengenai sains. Masyarakat awam menganggap, ilmu pengetahuan dimulai dari pengamatan murni yang kemudian digeneralisasi menjadi teori (induktivisme). Chalmers secara tegas menolak gagasan ini.

Menurut Chalmers, tidak ada pengamatan yang benar-benar telanjang atau bebas nilai. Setiap pengamatan selalu bermuatan teori (theory-laden). Kita tidak melihat dunia apa adanya; kita melihatnya melalui lensa konsep yang sudah ada di kepala. Dalam edisi ketiga bukunya, ia menegaskan, jika sains hanya bergantung pada induksi, maka fondasinya akan rapuh karena observasi itu sendiri bisa salah dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya atau teoritis pengamat.

Berbeda dengan filsuf Paul Karl Feyerabend (1924-1994) yang menyimpulkan semua boleh (anything goes), Chalmers tetap mempertahankan bahwa sains memiliki klaim khusus terhadap kebenaran mengenai dunia nyata. Ia mengadopsi posisi realisme ilmiah yang berpendapat, tujuan sains adalah memberikan deskripsi yang benar tentang dunia, termasuk entitas yang tidak dapat diamati secara langsung (seperti atom atau virus), bukan sekadar instrumen untuk prediksi.

Metode Ilmiah

Salah satu argumen Chalmers yang provokatif adalah penolakannya terhadap keberadaan metode ilmiah yang tunggal, universal, dan ahistoris (tidak lekang oleh waktu). Dalam tulisannya The Case Against a Universal, A-Historical Scientific Method (1985), ia berargumen, filsuf tampak gagal karena mencoba menetapkan aturan abadi (seperti falsifikasionisme Karl Popper) yang harus dipatuhi oleh semua ilmuwan di segala zaman.

Chalmers menunjukkan, standar pembuktian dalam sains itu sendiri berevolusi. Apa yang dianggap sebagai bukti yang sah oleh Galileo berbeda dengan standar fisikawan kuantum modern. Jika memaksakan satu metode universal (misalnya teori harus selalu dapat difalsifikasi), justru akan membuang banyak teori sains berharga di masa awal pembentukannya yang mungkin belum sempurna.

Barry Gower (1988) dalam ulasannya terhadap Chalmers mencatat, Chalmers berusaha menghindari dua poros ekstrem, yakni dogmatisme metodologis (satu aturan untuk semua) dan skeptisisme total. Chalmers menawarkan jalan tengah yang berarti metode sains memang ada, tetapi metode tersebut bersifat lokal, spesifik terhadap konteks masalah yang dihadapi, dan dapat berubah seiring kemajuan instrumen dan teori itu sendiri.

Status Ilmu Pengetahuan

Dalam perdebatan sengit melawan aliran strong programme dalam sosiologi sains, Chalmers membela status istimewa ilmu pengetahuan. Sosiolog kerap berargumen, bahwa karena sains dikerjakan oleh manusia di dalam struktur sosial, maka kebenaran ilmiah hanyalah konstruksi sosial yang setara dengan mitos atau agama.

Dalam The Sociology of Knowledge and the Epistemological Status of Science (1988), Chalmers membantah keras pandangan ini. Ia membedakan antara produksi pengetahuan (yang memang sosial dan dipengaruhi kepentingan politik/ekonomi) dengan karakter pengetahuan itu sendiri. Menurutnya, begitu suatu pengetahuan ilmiah diuji dan dipublikasikan, ia menjadi entitas objektif yang lepas dari bias penciptanya.

Chalmers menekankan konsep peluang objektif (objective opportunities). Dunia alamiah memberikan batasan dan peluang tertentu. Sains berhasil bukan karena ilmuwan adalah manusia suci yang bebas bias, melainkan karena praktik ilmiah (eksperimen, uji coba, kritik sejawat) memaksa teori tersebut untuk bertabrakan dengan realitas dunia fisik. Inilah yang memberi sains status epistemologis yang lebih tinggi dibanding bentuk pengetahuan lain.

Sebagai contoh praktis, dalam tulisannya mengenai epidemiologi, Chalmers mengkritik pendekatan medis yang terlalu fokus pada individu dan mengabaikan struktur kelas sosial. Ia menunjukkan, objektivitas sains justru tercapai ketika mampu menganalisis struktur material yang nyata (seperti kemiskinan penyebab penyakit), bukan hanya bermain dengan data statistik permukaan.

Bukti Sejarah

Untuk membuktikan filsafat spekulatif berbeda dengan sains yang matang, Chalmers melakukan studi sejarah mendalam mengenai atomisme, yang tertuang dalam bukunya The Scientist’s Atom and the Philosopher’s Stone (2009) dan artikel lanjutannya. Chalmers membedakan secara tegas antara atomisme filosofis dan atomisme ilmiah.

Atomisme filosofis (abad ke-17) dengan tokoh seperti Robert Boyle mengusulkan filsafat mekanis, bahwa dunia terdiri dari partikel-partikel kecil. Namun, Chalmers berargumen, ini belum menjadi sains yang sukses karena Boyle tidak memiliki cara eksperimental untuk membuktikan keberadaan atom tersebut. Teori Boyle hanyalah spekulasi metafisik yang gagal menghasilkan pengetahuan baru lagi terukur.

Dalam atomisme ilmiah (abad ke-19/20), sains atom baru benar-benar sukses melalui karya Jean Perrin dan teori kinetik gas, di mana keberadaan atom dibuktikan melalui konvergensi bukti independen (seperti gerak Brown). Di sini, atom bukan lagi sekadar ide filsafat, tetapi entitas yang bisa diintervensi dan diukur.

Kritik terhadap pandangan Chalmers ini muncul dari sejarawan seperti William Newman (2010), yang menuduh Chalmers terlalu menyederhanakan sejarah Boyle demi mendukung agenda filosofisnya. Namun, Chalmers tetap bersikukuh, bahwa tanpa dukungan eksperimental independen, sebuah teori sebagus apa pun logikanya terbilang belum layak disebut sebagai pengetahuan ilmiah yang matang.

Sebuah Integrasi

Secara keseluruhan, pandangan Alan Chalmers adalah pembelaan terhadap sains yang realistis namun rendah hati. Ia mengajarkan, hakikat sains ialah upaya mencari kebenaran objektif tentang dunia, bukan sekadar kesepakatan sosial. Metode sains tidak terpaku pada satu resep buku (seperti metode ilmiah baku di sekolah), melainkan berkembang secara pragmatis melalui interaksi eksperimental dengan alam. Juga status sains tetap istimewa, karena kemampuannya untuk dikoreksi oleh realitas melalui eksperimen ketat, membedakannya dari ideologi atau pseudosains.

Ulasan Michael R. Matthews (2010) pun mengonfirmasi karya Chalmers khususnya mengenai atomisme, yang berhasil menjembatani kesenjangan antara sejarah dan filsafat, serta menunjukkan bahwa suksesnya sains terletak pada pergeseran dari spekulasi metafisik menuju konfirmasi eksperimental. Dengan demikian, bagi masyarakat umum, pesan Chalmers dimaksudkan agar percaya pada sains bukan karena ilmunya pasti benar atau metodenya suci, melainkan karena sains memiliki mekanisme koreksi diri yang objektif dan teruji oleh realitas.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Taufik Hidayat

Memadukan logika saintek dan wawasan soshum adalah inti profil kami. Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro (UGM & PENS) serta pengalaman mengajar di pesantren, kami memiliki perspektif unik dalam memandang saintek. Setelah berkarier di sektor industri, kini mengabdi sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama di Dinas ESDM Jawa Barat. Peran ini diperkaya dengan aktif menulis isu saintek melalui kacamata soshum, meyakini bahwa kemajuan harus selalu selaras dengan nilai-nilai pemikiran peradaban.