Tumbler, Tekanan Batin, dan Psikopatologi Menurut Ibn Sina

slider
06 Desember 2025
|
918

Viralnya kasus tumbler yang hilang mungkin tampak sebagai anekdot ringan di tengah keriuhan digital, tetapi jika dibaca melalui lensa Ibn Sina, kisah ini membuka lapisan yang jauh lebih dalam tentang kondisi psikis masyarakat kontemporer. Tradisi filsafat Islam, terutama dalam kerangka psikologi Ibn Sina, menawarkan cara membedah gejala sosial semacam ini secara lebih jernih: bukan menertawakan reaksinya, tetapi memahami apa yang sedang terjadi pada jiwa kolektif kita.

Ibn Sina memandang manusia sebagai kesatuan tiga daya: daya rasional, daya emosional, dan daya imajinatif. Gangguan psikis muncul ketika keseimbangan ketiganya runtuh. Dalam an-Nafs, Ibn Sina menjelaskan bahwa tekanan internal yang menumpuk dapat menyebabkan dua gejala utama.

Pertama, kelelahan ruh hewani yang membuat tubuh kehilangan ketahanan terhadap rangsangan kecil. Kedua, distorsi pada daya wahmiyah, yakni kemampuan mempersepsi makna sosial. Dalam kondisi seperti ini, objek kecil bisa dipersepsikan sebagai ancaman besar; reaksi emosional menjadi tidak setara dengan rangsangannya.

Fenomena hilangnya tumbler yang kemudian viral persis mencerminkan mekanisme itu. Bagi Ibn Sina, ketika seseorang atau sekelompok orang mengekspresikan kemarahan besar pada objek kecil, itu adalah tanda bahwa ruh sedang berada dalam marhalah al-infi’al, fase keterguncangan. Bukan tumbler-nya yang bermasalah, tetapi daya persepsi internal yang telah dipenuhi tekanan tak terkelola.

Pada situasi demikian, daya wahmiyah mengambil alih, membesar-besarkan makna sosial dari peristiwa kecil. Tumbler yang hilang berubah menjadi simbol ketidakadilan, ketidakhormatan, bahkan keruntuhan tatanan etis. Rasio sebetulnya menyadari ketidakseimbangan itu, tetapi ia terlalu lemah untuk mengatur emosional yang sedang bergejolak.

Dalam terminologi Ibn Sina, ini disebut fasad al-idrak: kerusakan cara menangkap realitas akibat ketegangan batin. Ibn Sina menjelaskan bahwa tekanan batin yang tidak pernah mendapatkan keluasan ekspresi akan mencari jalan keluar melalui objek paling mudah.

Reaksi yang tampak “berlebihan” bukanlah sifat bawaan individu, melainkan gejala bahwa struktur psikis sedang berada dalam kondisi tegang. Objek kecil hanyalah pelampung pertama yang terlihat di permukaan air ketika seseorang hampir tenggelam.

Ketika fenomena ini menjadi kolektif, psikopatologi bukan lagi masalah klinis individual, tetapi tanda retaknya keseimbangan sosial. Ibn Sina memberi peringatan bahwa kerusakan persepsi kolektif biasanya lahir dari akumulasi kelelahan sosial, ketidakpastian ekonomi, kecemasan moral, dan rasa kehilangan kendali terhadap masa depan.

Dalam kondisi demikian, masyarakat memerlukan simbol kecil untuk memusatkan emosinya. Kehilangan tumbler menjadi ruang aman untuk menumpahkan kegelisahan yang jauh lebih besar. Mengeluhkan tumbler tidak mengancam struktur kekuasaan, tidak menyentuh topik sensitif, dan memberi kompensasi emosional cepat. Seseorang merasa “adil” ketika ia memarahi pelaku kehilangan barang, meski secara batin ia sedang berjuang dengan kecemasan yang tidak terkatakan.

Dalam perspektif Ibn Sina, mekanisme itu disebut tahawwul al-infi‘al: pergeseran kemarahan dari sebab utamanya menuju sebab kecil yang lebih aman. Ini mirip dengan yang sebut displacement. Tetapi Ibn Sina membahasnya ratusan tahun sebelumnya, lengkap dengan penjelasan tentang bagaimana daya imajinatif menggandakan makna simbolik dari peristiwa kecil.

Dengan demikian, fenomena tumbler viral bukan sekadar drama harian internet, tetapi indikator kerentanan psikis masyarakat. Ia menyingkap fakta bahwa banyak orang kini hidup dalam kondisi kelelahan batin berkepanjangan. Rasio melemah, emosi mengejang, dan persepsi sosial kehilangan ketepatannya. Dalam bahasa Ibn Sina, masyarakat sedang mengalami ihtilal al-mizaj, kerusakan keseimbangan batin yang membuat reaksi terhadap realitas menjadi tidak proporsional.

Tugas kita, mengikuti Ibn Sina, bukan menertawakan atau menghakimi reaksi berlebihan itu. Apa yang penting adalah membaca gejala tersebut sebagai alarm bagi kesehatan psikis kolektif. Fenomena tumbler viral menunjukkan bahwa ada tekanan besar yang tidak sedang kita bicarakan: ketidakpercayaan sosial, rasa tak aman, dan kelelahan struktural. Semua itu mencari jalan keluar melalui hal paling kecil, seperti dorongan air yang menemukan celah pada retakan terkecil.

Dalam kacamata Ibn Sina, setiap reaksi yang tidak setara dengan objeknya adalah pintu menuju diagnosis batin. Dan dalam kasus tumbler yang viral ini, pintu itu terbuka sangat lebar.

 


Category : keilmuan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Kaha Anwar

Tukang Angon Wedhos dari Ngawi.